Monday , 25 February 2019

Rekomendasi Tempat Wisata Kuliner di Tulungagung

kuliner tulungagung

Pernah ke Tulungagung? Selain wisata pantainya, kota di bagian selatan Jawa Timur yang dikenal dengan sebutan Kota Marmer ini punya beragam kuliner yang lezat. Sepekan berwisata ke Tulungagung mungkin urusan perut yang paling perlu dimanja. Makanan hotel yang selalu sama rasa dan ragamnya tak banyak memberikan kesan istimewa. Saya sepakat kuliner khas Tulungagung diletakkan pada daftar wajib yang dikunjungi.

Kali ini adalah perjalanan tak biasa karena mengemban tugas sebagai peneliti dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung. Setelah melalui perjalanan panjang menggunakan Malioboro Expres (Yogyakarta – Tulungagung), sayapun diantar langsung menuju Hotel Istana, Tulungagung. Mas Rio yang mengantar kami. Beliau adalah fotografer sekaligus aktivis pariwisata yang gembar-gembor promosi lewat foto cantiknya. Berkat hobinya, Mas Rio banyak dikenal pengelola tempat wisata.

Hari telah siang setibanya kami di Hotel Istana. Mas Rio mengajak kami langsung mencicipi kuliner khas Tulungagung, Ayam Lodho. Masakan Ayam Lodho ini dagingnya ayam kampung yang dibakar terlebih dulu. Sekilas, Ayam Lodho nampak seperti ayam kari. Harga seporsi Ayam Lodho Rp75.000,00. Pasangan Ayam Lodho adalah urap. Bumbu Ayam Lodho memiliki citra rasa rempah yang kuat.

DSC03542

DSC03543

DSC05038

Mulailah dengan menuangkan kuah pedas di piring. Rasa kaldu yang menyatu dengan ayam kampung terasa lezat. Santannya yang gurih dan aroma nasi gurih/nasi uduk yang wangi menambah kenikmatan di setiap gigitannya. Dagingnya yang empuk juga mudah untuk dicabik dan sangat nikmat digado (dimakan tanpa nasi).

Baca Juga:  10 Tempat Wisata di Jember Yang Wajib Dikunjungi

Malam harinya, saya tak berharap untuk makan masakan hotel. Akhirnya diputuskan untuk mencari makan malam di pusat kota. Cukup berjalan beberapa kilo saja dari Hotel Istana, saya menemukan rumah makan sate dan gulai kambing Tulungagung. Warung makan yang kecil, namun sesak banyak orang yang bersantap nikmat. Aroma bakar dari kipas sate sudah berhasil membujuk dan menggoda untuk lekas menempati kursi kosong di tengah ruangan.

“Sepuluh tusuk?” tanya penjual. Saya tak paham berapa isi satu porsi di sini, saya jawab saja dengan satu kali anggukan. Beberapa menit kemudian, sate kambing dihidangkan.

DSC03575

DSC03574

page

Ada yang unik dari sate di Tulungagung. Bukan pada jenis kambing, tusuknya, maupun cara menyajikannya. Sate kambing di sini dibumbui petis bercampur kecap manis. Kecap yang digunakannya tak dijual di luar Tulungagung mereknya kecap ‘Kuda’. Kecap jenis ini hanya diproduksi di Kabupaten Tulungagung. Satu porsi berisi sepuluh tusuk sate kambing dihargai Rp30.000,00. Kuliner sate kambing banyak ditemui di Tulungagung, mulai dari lesehan, bahkan sampai sekelas rumah makan. Menurut Mas Rio, kunci dari Sate Kambing Tulungagung terletak pada bumbu petis dan kecap ‘Kuda’.

DSC05293

Esoknya, saya pun tak ingin mencicipi makanan yang sama dengan jarak waktu yang dekat. Saya pun diajak Mas Rio ke rumah makannya. Rumah makan Bima namanya.

Baca Juga:  Danau Terindah di Indonesia Yang Wajib Dikunjungi

Memasuki rumah makan ini sudah disambut dengan suasana yang romantis. Bangunannya pun masih peninggalan Belanda. Daun-daun pintu dan jendelanya cukup besar, atap-atap dan nilai arsitekturnya masih asli menjadikan rumah makan ini nampak istimewa. Salah satu menu andalah rumah makan ini adalah Ayam Bima. Satu porsinya dihargai Rp75.000,00. Dagingnya yang empuk dan manis menjadi ciri khas Ayam Bima.

DSC04227

Sayang sekali, Mas Rio nampak kelelahan mengantar saya kesana-kemari untuk survei lapangan. Saya pun mulai berkenalan dengan Mas Aris, pegawai Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung. Beliau pun mengajak saya mampir ke salah satu tempat minum kopi. Ya, minum kopi adalah kegemaran masyarakat Tulungagung.

Apakah kamu penggemar kopi? Jika iya, cobalah cicipi Kopi Ijo khas Tulungagung. Kopi Ijo banyak tersedia di warung kopi yang tersebar di Tulungagung. Mengapa dinamakan kopi ijo? Pertama, jika dilihat secara seksama, kopi ini memiliki warna hijau kehitam-hitaman. Kedua, karena kopi ini telah dicampur dengan bubuk kacang hijau yang telah diolah.

Mas Aris mengatakan, kebiasaan masyarakat Tulungagung tak pernah lepas dari budaya nyethe. Nyethe adalah mengoleskan endapan kopi ke rokok. Kopi yang digunakan untuk nyethe inilah yang dinamakan kopi cethe. Biasanya, rokok yang digunakan untuk cethe memiliki motif. Motifnya pun bermacam-macam, bahkan ada yang menyerupai batik.

Baca Juga:  Bukit Jamur Di Gresik Jawa Timur

Sejarah nyethe sebenarnya bermula dari kebiasaan para petani yang mampir ke warung kopi untuk menghisap rokok ketika selesai menggarap sawah. Rokoknyapun sesekali dioles endapan kopi yang ada di cawan.

Kebiasaan masyarakat untuk nyethe pun kini mengangkat wisata kuliner di Tulungagung. Hampir setiap jalan-jalan perkotaan sering ditemui penjual warung kopi. Bahkan ada desa di wilayah Tulungagung yang hampir seluruh tepi jalannya banyak dibuka warung kopi. Salah satu desa tersebut bernama Desa Bolorejo. Sayapun diantar oleh Mas Aris. Betapa ramainya warung-warung kopi di siang hari.

Warung kopi di sini mirip dengan warung 24 jam non-stop. Bagaimana tidak? Kebiasaan yang dibawa para petani ini kini mulai digemari kalangan muda. Bahkan saat ini, kemasan Kopi Ijo dan Cethe sudah banyak dijual di pusat oleh-oleh Tulungagung. Sayapun membelinya.

DSC05295

Tak puas rasanya hanya melewati Kota Marmer ini tanpa mencicipi ragam kulinernya. Kuliner Ayam Lodho, kopi cethe, kopi ijo, dan sate kambing sangat mudah ditemui di setiap sudut Tulungagung. Sementara untuk Ayam Bima, hanya ada di satu rumah makan saja, yaitu Rumah Makan Bima. Bagaimana? Tertarik ke Tulungagung?

Save