Sunday , 24 February 2019

Masjid Sultan Suriansyah, Tempat Wisata Religi di Banjarbaru

Masjid Sultan Suriansyah, Wisata Religi Banjarbaru

Masjid Sultan Suriansyah, Tempat Wisata Religi di Banjarbaru – Terletak di tepi Sungai Kuin, Masjid Sultan Suriansyah adalah tujuan populer bagi kamu yang tertarik dengan wisata religius. Masjid ini adalah masjid tertua di Kalimantan Selatan, dibangun sekitar 300 tahun yang lalu, pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah, Raja Banjar pertama yang masuk Islam. Dipengaruhi oleh arsitektur pra-Islam Banjar, atap berlapis masjid sangat unik dan membedakannya dari masjid lain di Banjarmasin.

Masjid Kuin merupakan salah satu dari tiga masjid tertua yang ada di kota Banjarmasin pada masa Mufti Jamaluddin (Mufti Banjarmasin), masjid yang lainnya adalah Masjid Besar (cikal bakal Masjid Jami Banjarmasin) dan Masjid Basirih.

Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan situs ibukota Kesultanan Banjar yang pertama kali. Masjid ini letaknya berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah dan di tepian kiri sungai Kuin.

Masjid Kuno

Kekunoan masjid ini dapat dilihat pada 2 buah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm yakni pada dua daun pintu Lawang Agung. Pada daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: ” Ba’da hijratun Nabi Shalallahu ‘alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia.”

Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: “Kiai Damang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya’ban tatkala itu (tidak terbaca)”.

Kedua inskripsi ini menunjukkan pada hari Senin tanggal 10 Sya’ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung (pintu utama) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Sepuh atau Sultan Tamjidullah.

Baca Juga:  Pantai Angsana Banjarmasin, ‘Bunakennya’ Kalimantan Selatan

Pada mimbar yang terbuat dari kayu ulin terdapat pelengkung mimbar dengan kaligrafi berbunyi “Allah Muhammadarasulullah”. Pada bagian kanan atas terdapat tulisan “Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal 17”, sedang pada bagian kiri terdapat tulisan : “Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri”. Ini berarti pembuatan mimbar pada hari Selasa Legi tanggal 17 Rajab 1296, atas nama Haji Muhammad Ali al-Najri.

Masjid Sultan Suriansyah

Filosofi Ruang

Pola ruang pada Masjid Sultan Suriansyah merupakan pola ruang dari arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan. Arsitektur Masjid Agung Demak sendiri dipengaruhi oleh arsitektur Jawa Kuno pada masa kerajaan Hindu.

Identifikasi pengaruh arsitektur tersebut tampil pada tiga aspek pokok dari arsitektur Jawa Hindu yang dipenuhi oleh masjid tersebut. Tiga aspek tersebut : atap meru, ruang keramat (cella) dan tiang guru yang melingkupi ruang cella. Meru merupakan ciri khas atap bangunan suci di Jawa dan Bali. Bentuk atap yang bertingkat dan mengecil ke atas merupakan lambang vertikalitas dan orientasi kekuasaan ke atas.

Bangunan yang dianggap paling suci dan dan penting memiliki tingkat atap paling banyak dan paling tinggi. Ciri atap meru tampak pada Masjid Sultan Suriansyah yang memiliki atap bertingkat sebagai bangunan terpenting di daerah tersebut. Bentuk atap yang besar dan dominan, memberikan kesan ruang dibawahnya merupakan ruang suci (keramat) yang biasa disebut cella.

Tiang guru adalah tiang-tiang yang melingkupi ruang cella (ruang keramat). Ruang cella yang dilingkupi tiang-tiang guru terdapat di depan ruang mihrab, yang berarti secara kosmologi cella lebih penting dari mihrab.

Jejak Penyebaran Islam di Masjid Sultan Suriansyah Tempat Wisata di Banjarbaru

Kota Banjarmasin agaknya boleh berbangga diri karena memiliki sebuah situs bersejarah berupa bangunan masjid. Tempat ibadah yang dibangun pada 1526 itu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan terutama yang gemar berwisata religi dan menekuni cerita bersejarah.

Baca Juga:  Tempat Rekreasi di Banjarmasin yang Begitu Memukau

Masjid itu memiliki nama resmi Masjid Sultan Suriansyah dan berlokasi di dekat Sungai Kuin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Masyarakat setempat ada yang menyebutnya Masjid Kuin. Masjid yang berusia hampir 5 abad itu merupakan saksi bisu penyebaran agama Islam di tanah Banjar, yang kini 98 persen penduduknya memeluk agama Islam.

Dari segi arsitektur bangunan, masjid ini memiliki corak perpaduan budaya khas tradisional Banjar dan Demak. Yakni, berupa rumah panggung berbahan dasar kayu ulin dan beratap tumpang tiga dengan hiasan mustaka pada bagian atapnya. Atap tumpang tiga ini sangat mirip dengan Masjid Agung Demak yang lebih dulu dibangun pada 1474.

Pada bagian interior masjid terdapat mimbar dari kayu ulin yang memiliki lengkungan berhias kaligrafi Arab. Di bawah tempat duduk mimbar terdapat undak-undak berjumlah sembilan yang dihiasi ukiran dengan motif sulur, kelopak bunga, dan arabes. Inkripsi tersebut semakin memperkuat kesan tradisional sekaligus memperlihatkan ciri khas budaya melayu yang mengalami akulturasi dengan budaya Arab.

Masjid-Sultan-Suriansyah

Penyematan nama Sultan Suriansyah pada masjid itu tak lepas dari sejarah panjang yang menyertainya. Awalnya, Sultan Suriansyah dikenal dengan nama Pangeran Samudera yang merupakan cucu dari Maharaja Sukamara, raja Kerajaan Negara Daha (kini masuk wilayah Kabupaten Hulu Selatan).

Sebelum meninggal, Maharaja Sukamara berwasiat agar yang naik tahta menggantikan dirinya adalah Pangeran Samudera, yang merupakan putra dari anak perempuan Maharaja Sukamara, yakni Puteri Galuh, hasil pernikahan dengan Menteri Jaya.

Tetapi, putra Maharaja, Pangeran Tumenggung dan Pangeran Bagalung tidak menyetujui keputusan itu. Karena jika mengikuti jalur tradisi, pengganti raja yang mangkat seharusnya putera kandungnya.

Baca Juga:  Amanah Borneo Park, Wisata Keluarga Paling Rekomended

Dalam peperangan, Pangeran Samudera mengalami kekalahan kemudian meminta bantuan pada Kerajaan Demak. Permintaannya dikabulkan namun dengan syarat apabila pihak Pangeran Samudera yang menang, ia beserta rakyatnya harus memeluk agama Islam.

gerbang-utama-masjid-suriansyah

Akhirnya, Pangeran Samudera beserta pasukan berhasil menaklukkan lawan di medan perang. Sesuai janji, ia dan rakyatnya masuk agama Islam dan mengganti nama menjadi Sultan Suriansyah. Ia mencatat sejarah sebagai orang pertama dari kalangan Kasultanan Banjar yang memeluk Islam dan membangun masjid yang diberi nama Masjid Sultan Suriansyah.

Meski telah berusia 500 tahun, masjid Sultan Suriansyah masih terawat dengan baik. Setiap hari selalu ada wisatawan yang berkunjung, terutama hari Sabtu dan Minggu.

Daya tarik lain bagi para wisatawan, selain dari nilai sejarah masjid ini adalah berziarah ke makam Sultan Suriansyah yang hanya berjarak 200 meter dari masjid. Menurut keterangan penjaga, kompleks makam Sultan dulunya merupakan istana tempat Pangeran Samudera menghabiskan waktunya sebagai pemimpin Kerajaan Banjar. Ketenaran masjid ini menimbulkan pameo, jangan bilang pernah ke Banjarmasin kalau belum mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah.

Bagi kawan-kawan yang sedang mengunjungi Banjarmasin sempatkan mampir ke Masjid Sultan Suriansyah, rasanya belum lengkap kalau belum mengunjungi masjid ini karena merupakan peninggalan asal muasal masuknya Islam di Kalimantan.

Sekian dulu yah dari kami, kalau masih penasaran silahkan datang langsung ke Masjid Sultan Suriansyah. Salam Lestari Budaya Indonesia. Bila kamu datang dari luar kota, kamu bisa mengikuti koordinat GPS dengan Google Maps disini untuk menuju Masjid Sultan Suriansyah . Selamat berkunjung ke Masjid Sultan Suriansyah!